Rabu, 12 April 2023

 

Sejarah Sarung di Indonesia

Berdasarkan sejumlah catatan, sarung disebut berasal dari Yaman. Pada awalnya, sarung dipakai suku badui yang tinggal di Yaman. Namun saat itu sarung berasal dari kain putih yang dicelupkan ke dalam neel, pewarna kain hitam untuk membuatnya agar tidak cepat terlihat kotor.

Adapun, di negeri Timur Tengah itu sarung dikenal dengan nama futahizaar atau ma'awis. Di Oman, sarung dikenal dengan nama wizaar. Semantara itu, bagi orang Arab menamainya dengan izaar yang kelak juga terus mengalami transformasi motif.

Seiring waktu, penggunaan sarung akhirnya ikut meluas ke berbagai wilayah di dunia yang dibawa oleh mereka yang berasal dari Semenanjung Arab. Tak hanya itu, persebarannya juga mencapai ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa. 

Di Nusantara, sarung masuk pertama kali diperkirakan pada abad ke-14. Saat itu sarung dibawa oleh para saudagar Gujarat dan Arab yang juga turut menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu dalam perkembangannya sarung identik dengan kebudayaan Islam.  

Sementara itu, dikutip dari buku Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-Batas Pembaratan (2005) karya Denys Lombard, dalam memoar Pangeran Djajadiningrat dari Kesultanan Banten, menunjukkan bahwa sampai sekitar 1902, masyarakat Jawa masih memakai sarung, jas model Jawa, dan kain tutup kepala yang disebut destar.

Kendati demikian, kebudayaan bersarung kemungkinan sudah ada di berbagai suku di Indonesia jauh sebelum itu. Beberapa di antaranya dapat dilihat dari berbagai daerah yang mewariskan peradaban ini, misalnya suku Bugis di Sulawesi Selatan, atau masyarakat Bali dan Nusa Tenggara Barat.
 

Sarung Sebagai Simbol Perjuangan

Saat pemerintah kolonial Belanda masih menjajah Indonesia, sarung juga identik dengan simbol perjuangan melawan budaya barat. Saat itu, para santri di bawah kungkungan Belanda menggunakan sarung sebagai bentuk nasionalisme.

Ketika itu, masyarakat santri merupakan salah satu golongan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung. Padahal, pada saat yang sama kaum nasionalis abangan hampir meninggalkan busana ini dan menggantinya dengan celana formal yang dianggap lebih praktis dan modern.

Sikap konsisten ini salah satunya dijalankan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, seorang tokoh sentral di Nahdlatul Ulama (NU). Syahdan, dia diundang Presiden Soekarno ke Istana Negara yang memintanya untuk berpakaian lengkap dengan jas dan dasi saat berkunjung.

Namun, saat menghadiri upacara kenegaraan, dia justru datang menggunakan jas tetapi bawahannya mengenakan kain sarung. Padahal, umumnya orang mengenakan jas dilengkapi dengan celana panjang. Sikap sang kiai saat mengenakan sarung adalah ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya di hadapan para penjajah.

Halaman selanjutnya: Ciri Khas & Filosofi Sarung Indonesia

  

1

 

2

 

Suku kajang yang merupakan sebuah komunitas adat di Sulawesi Selatan, dikenal dengan pakaian serbahitam.

Komunitas adat ini bermukim di desa Tana Toa, Kecamatan Kajang. Kabupaten Bulukumba. Setiap hari mereka menggunakan sarung hitam atau biasanya disebut ‘lipa’ le’leng’ yang mereka tenun sendiri dengan menggunakan pewarna alami.

Lipa le’leng atau sarung hitam adalah sarung khas dari suku Kajang yang dibuat dengan proses alamiah dan ditenun dari tangan-tangan terampil perempuan Kajang.

Sarung ini merupakan pakaian masayarakat Kajang yang digunakan sehari-hari. Sarung ini juga menjadi syarat ketika ada upacara-upacara adat di Kajang.

Alat yang biasanya digunakan merupakan warisan nenek moyang, terbuat dari bambu dan kayu, sedangkan proses pembuatannya memiliki ikatan dengan alam.

Pada umumnya perempuan di Kajang menenun di bawah rumah atau biasa juga di sebut siring.

Nenek Hanong, salah satu warga Tana Toa, mengatakan jika sarung hitam ini dibuat berdasarkan proses tradisional dengan tangan-tangan terampil perempuan Kajang.

“Tidak semua perempuan di sini bisa menenun. Keterampilan menenun juga lahir secara turun temurun. Pertama harus menanam daun tarung, selama beberapa bulan daun tarung dipetik kemudian direndam beberapa hari dalam baskom atau ember,” ungkapnya, Jum’at (4/8/2017).

Daun tarung merupakan sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna hitam yang digunakan sebagai dasar bahan untuk pewarna hitam untuk benang.

Dahulu sebelum menggunakan benang mereka menggunakan bahan baku kapas. Benang- benang putih mereka kemudian direndam beberapa hari dalam baskom lalu dijemur di bawah terik matahari selama beberapa jam.

Setelah proses menghitamkan benang dari daun tarung selesai. Benang-benang tersebut kemudian di pintal dan di masukkan kedalam alat tenun.

Proses menenun dalam satu sarung adalah tiga sampai empat bulan lamanya, Sarung hitam ini biasanya di beri motif biru, merah dan putih, yang di buat vertical.

Motifnya tidak ramai seperti kain-kain etnik pada umumnya. Sesuai dengan prinsip masyarakat Kajang sendiri yaitu sederhana.

Setelah melalui proses panjang, sarung hitam ini kemudian dibuat mengkilat, dalam bahasa kajang di sebut ‘garusu’. Sarung hitam dibuat mengkilat dengan menggunakan Kerang dari laut.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar